Sistem Respirasi, Ventilasi, Difusi, Transfortasi, Regulasi dan Pengertiannya

Di kesempatan yang berbahagia ini saya akan mencoba menulis artikel tentang Sistem respirasi yang terdiri atas; ventilasi, difusi, transportasi, dan regulasi. Nanti akan saya coba membahasnya satu persatu, mudah-mudahan bisa di pahami.
Advertisement

Ventilasi

Ventilasi merupakan salah satu proses pertukaran udara antara atmosfer dengan alveoli. Proses ini terdiri dari inspirasi yaitu masuknya udara ke paru-paru, dan ekspirasi yaitu keluarnya udara dari paru-paru.

Dan ventilasi ini terjadi karena adanya suatu perubahan tekanan intra pulmonal, pada saat inspirasi tekanan intra pulmonal lebih rendah daripada tekanan atmosfer sehingga udara yang ada di atmosfer akan terhisap ke dalam paru-paru. Sebaliknya ketika ekspirasi tekanan intrapulmonal menjadi lebih tinggi daripada atmosfer sehingga udara yanga ada akan tertiup keluar dari paru-paru. Perubahan tekanan intra pulmonal tersebut disebabkan karena perubahan volume thorax akibat kerja dari otot-otot pernafasan dan diafragma.

Ketika inspirasi terjadi kontraksi dari otot-otot insiprasi (muskulus interkostalis eksternus dan diafragma)sehingga terjadi elevasi dari tulang-tulang kostae dan menyebabkan peningkatan volume cavum thorax (rongga dada), Secara bersamaan paru-paru juga akan ikut mengembang sehingga tekanan intra pulmonal menurun dan udara terhirup ke dalam paru-paru.

Advertisement

Setelah inspirasi normal biasanya masih bisa menghirup udara dalam-dalam (menarik nafas dalam), hal ini dimungkinkan karena kerja dari otot-otot tambahan isnpirasi yaitu muskulus sternokleidomastoideus dan muskulus skalenus. Ekspirasi merupakan proses yang pasif dimana setelah terjadi pengembangan cavum thorax akibat kerja otot-otot inspirasi maka setelah otot-otot tersebut relaksasi maka terjadilah ekspirasi. Tetapi setelah ekspirasi normal, kitapun masih bisa menghembuskan nafas dalam-dalam karena adanya kerja dari otot-otot ekspirasi yaitu muskulus interkostalis internus dan muskulus abdominis.

Kerja dari otot-otot pernafasan disebabkan karena

– Adanya perintah dari pusat pernafasan (medula oblongata) pada otak.

– Medula oblongata terdiri dari sekelompok neuron inspirasi dan ekspirasi.

– Eksitasi neuron-neuron inspirasi akan dilanjutkan dengan eksitasi pada neuron-neuron ekspirasi serta inhibisi terhadap neuron-neuron inspirasi sehingga terjadilah peristiwa inspirasi yang diikuti dengan peristiwa ekspirasi.

– Area inspirasi dan area ekspirasi ini terdapat pada daerah berirama medula (medulla rithmicity) yang menyebabkan irama pernafasan berjalan teratur dengan perbandingan 2 : 3 (inspirasi : ekspirasi).

Ventilasi dipengaruhi oleh :

– Kadar oksigen pada atmosfer

– Kebersihan jalan nafas

– Daya recoil & complience (kembang kempis) dari paru-paru

– Pusat pernafasan

Fleksibilitas paru sangat penting peranannya dalam proses ventilasi. Fleksibilitas paru dijaga oleh surfaktan. Surfaktan merupakan campuran lipoprotein yang dikeluarkan sel sekretori alveoli pada bagian epitel alveolus dan berfungsi menurunkan tegangan permukaan alveolus yang disebabkan karena daya tarik menarik molekul air & mencegah kolaps alveoli dengan cara membentuk lapisan monomolekuler antara lapisan cairan dan udara. Energi yang diperlukan untuk ventilasi adalah 2 – 3% energi total yang dibentuk oleh tubuh. Kebutuhan energi ini akan meningkat ketika kita melakukan olah raga berat, dan ini bisa mencapai 25 kali lipat.

Volume tidal adalah volume udara yang diinspirasi dan diekspirasi dalam pernafasan normal. IRV (volume cadangan inspirasi) adalah volume udara yang masih bisa dihirup paru-paru setelah inspirasi normal. ERV (volume cadangan ekspirasi) adalah volume udara yang masih bisa diekshalasi setelah ekspirasi normal. Sedangkan RV (volume sisa) adalah volume udara yang masih tersisa dalam paru-paru setelah ekspirasi kuat.

Difusi

Difusi dalam respirasi yaitu salah satu proses pertukaran gas antara darah pada kapiler paru dengan alveoli. Proses difusi ini terjadi karena adanya perbedaan tekanan, gas berdifusi dari tekanan tinggi ke tekanan rendah. Salah satu ukuran difusi adalah tekanan parsial.

Difusi sendiri terjadi melalui membran respirasi yang merupakan dinding alveolus yang sangat tipis sekali dengan ketebalan rata-rata 0,5 mikron. Di dalamnya terdapat jalinan kapiler yang sangat banyak dengan diameter 8 angstrom. Dalam paru-paru terdapat sekitar 300 juta alveoli dan bila dibentangkan dindingnya maka luasnya mencapai 70 m2 pada orang dewasa normal.

Kapiler Paru

Saat difusi terjadi pertukaran gas antara oksigen dan karbondioksida secara simultan. Saat inspirasi maka oksigen akan masuk ke dalam kapiler paru dan saat ekspirasi karbondioksida akan dilepaskan kapiler paru ke alveoli untuk dibuang ke atmosfer. Proses pertukaran gas tersebut terjadi karena perbedaan tekanan parsial oksigen dan karbondioksida antara alveoli dan kapiler paru.

Volume gas yang berdifusi melalui membran respirasi per menit untuk setiap perbedaan tekanan sebesar 1 mmHg disebut dengan kapasitas difusi. Kapasitas difusi oksigen dalam keadaan istirahat sekitar 230 ml/menit. Saat aktivitas meningkat maka kapasitas difusi ini juga meningkat karena jumlah kapiler aktif meningkat disertai Dilatasi kapiler yang menyebabkan luas permukaan membran difusi meningkat. Kapasitas difusi karbondioksida saat istirahat adalah 400 – 450 ml/menit. Saat bekerja meningkat menjadi 1200 – 1500 ml/menit.

Difusi dipengaruhi oleh :

– Ketebalan membran respirasi

– Koefisien difusi

– Luas permukaan membran respirasi

– Perbedaan tekanan parsial

Transportasi

Setelah difusi maka selanjutnya terjadi proses transportasi oksigen ke sel-sel yang membutuhkan melalui darah dan pengangkutan karbondioksida sebagai sisa metabolisme ke kapiler paru. Sekitar 97 – 98,5% Oksigen ditransportasikan dengan cara berikatan dengan Hb (HbO2/oksihaemoglobin,) sisanya larut dalam plasma. Sekitar 5 – 7% karbondioksida larut dalam plasma, 23 – 30% berikatan dengan Hb (HbCO2/karbaminahaemoglobin) dan 65 – 70% dalam bentuk HCO3 (ion bikarbonat).

Hemoglobin

Saat istirahat, 5 ml oksigen ditransportasikan oleh 100 ml darah setiap menit. Jika curah jantung 5000 ml/menit maka jumlah oksigen yang akan diberikan ke jaringan sekitar 250 ml/menit. Saat olah raga berat dapat meningkat 15 – 20 kali lipat.

Transportasi gas dipengaruhi oleh :

– Cardiac Output

– Jumlah eritrosit

– Aktivitas

– Hematokrit darah

Setelah transportasi maka terjadilah difusi gas pada sel/jaringan. Difusi gas pada sel/jaringan terjadi karena tekanan parsial oksigen (PO2) intrasel selalu lebih rendah dari PO2 kapiler karena O2 dalam sel selalu digunakan oleh sel. Sebaliknya tekanan parsial karbondioksida (PCO2) intrasel selalu lebih tinggi karena CO2 selalu diproduksi oleh sel sebagai sisa metabolisme.

Regulasi

Kebutuhan oksigen tubuh bersifat dinamis, berubah-ubah dipengaruhi oleh berbagai faktor diantaranya adalah aktivitas. Saat aktivitas meningkat maka kebutuhan oksigen akan meningkat sehingga kerja sistem respirasi juga meningkat. Mekanisme adaptasi sistem respirasi terhadap perubahan kebutuhan oksigen tubuh sangat penting untuk menjaga homeostastis dengan mekanisme sebagai berikut :

Sistem respirasi diatur oleh pusat pernafasan pada otak yaitu medula oblongata.

– Pusat nafas terdiri dari daerah berirama medulla (medulla rithmicity) dan pons.

– Daerah berirama medula terdiri dari area inspirasi dan ekspirasi.

– Sedangkan pons terdiri dari pneumotaxic area dan apneustic area.

– Pneumotaxic area menginhibisi sirkuit inspirasi dan meningkatkan irama respirasi. Sedangkan apneustic area mengeksitasi sirkuit inspirasi.

Medula oblongata

Daerah berirama medula mempertahankan irama nafas I : E = 2” : 3”. Stimulasi neuron inspirasi menyebabkan osilasi pada sirkuit inspirasi selama 2” dan inhibisi pada neuron ekspirasi kemudian terjadi kelelahan sehingga berhenti. Setelah inhibisi hilang kemudian sirkuit ekspirasi berosilasi selama 3” dan terjadi inhibisi pada sirkuit inspirasi. Setelah itu terjadi kelelahan dan berhenti dan terus menerus terjadi sehingga tercipta pernafasan yang ritmis.

Pengaturan respirasi dipengaruhi oleh :

– Korteks serebri yang dapat mempengaruhi pola respirasi.

– Zat-zat kimiawi : dalam tubuh terdapat kemoreseptor yang sensitif terhadap perubahan konsentrasi O2, CO2 dan H+ di aorta, arkus aorta dan arteri karotis.

– Gerakan : perubahan gerakan diterima oleh proprioseptor.

– Refleks Heuring Breur : menjaga pengembangan dan pengempisan paru agar optimal.

– Faktor lain : tekanan darah, emosi, suhu, nyeri, aktivitas spinkter ani dan iritasi saluran nafas

Sistem respirasi memiliki fungsi utama untuk memasok oksigen kedalam tubuh dan membuang karbondioksida dari dalam tubuh. Fungsi lain dari respirasi adalah untuk menjaga keseimbangan pH dan keseimbangan elektrik dalam cairan tubuh. Organ pernapasa n dapat berupa kulit, insang, trachea dan paru-paru tergantung dari jenis hewannya. Dalam aktivitas bernapas terdiri atas dua kegiatan yaitu inspirasi dengan menghirup udara dan ekspirasi mengeluarkan udara dari dalam paru-paru. Pada bangsa unggas selain paru-paru ada organ lain yaitu kantong udara yang membantu dalam system respirasi.

Difusi gas antara organ respiratori dengan lingkungan terjadi karena adanya perbedaan tekanan gas. Pengankutan oksigen oleh darah sangat dipengaruhi oleh keberadaaan pigmen respiratorik yang dikenal denga hemoglobin. Semua aktivitas pernapasan , yaitu pengendalian kadar oksigen dan kadar karbondioksida dilakukan oleh system syaraf.

Sekian dulu artikel mengenai sistem respirasi semoga bermanfaat untuk kita semua. Terimakasih.

Advertisement

Facebook Twitter

One thought on “Sistem Respirasi, Ventilasi, Difusi, Transfortasi, Regulasi dan Pengertiannya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *